Film yang dijadwalkan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 Februari 2026 ini, menawarkan sebuah potret jujur tentang gesekan antara tradisi, ekspektasi orang tua, dan panggilan spiritual yang seringkali menjadi "tembok raksasa" bagi generasi muda Batak.
Sinema yang Berangkat dari Kejujuran Konflik
Sutradara Agustinus Sitorus kembali menunjukkan tajinya dalam meramu drama keluarga yang membumi. Melalui film ini, ia memotret kehidupan Bernard (diperankan oleh Aldy Maldini), seorang putra bungsu dalam keluarga Batak yang memikul beban ekspektasi sang Ibu (Mamak). Di saat Mamak memimpikan putranya menjadi abdi negara (PNS)—sebuah simbol stabilitas dalam tatanan sosial tertentu—Bernard justru mengalami pergulatan batin pasca serangkaian mimpi spiritual yang mempertemukannya dengan sosok Nommensen.
"Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah trilogi masalah yang paling sering bertentangan dalam realitas kita, namun ironisnya, jarang dibicarakan secara terbuka di meja makan," ungkap Agustinus Sitorus dalam sesi konferensi pers.
Transformasi Aldy Maldini dan Debut Layar Lebar Anneth Delliecia
Sorotan utama tertuju pada Aldy Maldini. Dikenal dengan citra remaja yang ceria, Aldy melakukan lompatan artistik dengan memerankan Bernard yang melankolis dan terhimpit.
"Ini adalah karakter paling menantang sepanjang karier saya. Biasanya saya mendapatkan peran yang mirip dengan kepribadian asli saya yang suka bercanda. Namun, Bernard berada di fase sulit; ia harus memilih antara ego, cinta kepada Anindita, dan rasa bakti kepada Ibu. Konfliknya tidak meledak-ledak secara verbal, tapi banyak yang dipendam di dalam," tutur Aldy.
Di sisi lain, Anneth Delliecia menandai debut layar lebarnya melalui peran Anindita. Kehadiran Anneth memberikan warna tersendiri, terlebih dengan latar pengambilan gambar di kawasan Danau Toba yang megah. "Syuting di Toba memberikan energi yang sangat emosional. Sebagai film pertama, ini sangat spesial karena ceritanya terasa sangat dekat dengan denyut nadi kehidupan sehari-hari," kata Anneth.
Menghapus Stigma Antagonis dalam Sosok Ibu
Salah satu kekuatan naratif film ini terletak pada penokohan Mamak yang dimainkan dengan sangat bernyawa oleh aktris senior Dharty Manullang. Alih-alih menampilkan sosok orang tua yang jahat, Dharty menampilkan karakter ibu yang dominan namun berangkat dari rasa takut akan masa depan anaknya.
"Dari peran ini, saya belajar bahwa sebagai ibu, seringkali kita merasa paling tahu apa yang terbaik, padahal yang menjalani hidup adalah anak. Jangan sampai dominasi kita justru memutus rantai komunikasi," jelas Dharty dengan nada reflektif.
Kehadiran jajaran pemain pendukung seperti Novia Situmeang, Jenda Munthe, Cok Simbara, hingga Dominique Sanda semakin memperkuat fondasi cerita. Novia Situmeang, yang memerankan tokoh pilihan keluarga, mengaku harus menggali emosi yang kompleks, sementara Jenda Munthe tetap memberikan totalitas yang memberikan keseimbangan dinamis dalam alur cerita.
Refleksi Budaya dan Visual yang Memikat
Secara visual, Antara Mama Cinta dan Surga tidak hanya mengeksploitasi keindahan alam Sumatera Utara, tetapi juga menggunakan simbolisme "Bahasa Cinta Nommensen" sebagai benang merah spiritualitas. Film ini berhasil menghindari jebakan hitam-putih; tidak ada antagonis mutlak, yang ada hanyalah perbedaan cara mencintai dan memaknai kebahagiaan.
Bagi para penikmat film drama yang mencari kedalaman cerita ketimbang sekadar hiburan instan, karya PIM Pictures ini menjadi tontonan wajib. Ia adalah cermin bagi setiap anak yang tengah berjuang menentukan arah kompas hidupnya, dan bagi setiap orang tua yang sedang belajar melepaskan.
Akankah Bernard memilih tunduk pada restu, atau melangkah menuju panggilannya?
Jawabannya dapat ditemukan di bioskop mulai 19 Februari mendatang. Informasi terbaru mengenai jadwal tayang dan konten eksklusif dapat dipantau melalui akun media sosial resmi @amcs.bahasacintanommensen dan @pimpictures_.







0 comments:
Posting Komentar