22 Juni 2026

MENYENTUH SANUBARI, ADAPTASI KOREA "DUA NAFAS" SIAP HANGATKAN BIOSKOP LEWAT IKATAN NENEK DAN CUCU


JAKARTA, filmlokal.id – Lanskap sinema domestik kembali bersiap menyambut sebuah melodrama keluarga yang sarat akan nilai emosional. Kolaborasi lintas negara antara Anypearl Film, Sunrise Pictures, dan Syakir Film resmi memperkenalkan proyek terbaru mereka, "Dua Nafas", lewat gelaran press screening dan konferensi pers yang berlangsung khidmat di Studio 2 XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (19/6/2026).


Diadaptasi dari salah satu kekayaan intelektual (IP) sinema Korea Selatan, "Dua Nafas" tidak sekadar memindahkan latar cerita, melainkan melakukan lokalisasi secara mendalam. Di bawah arahan sutradara Hasto Broto dan goresan pena penulis skenario Exan Zen, film ini dijadwalkan menyapa seluruh pencinta film tanah air mulai 2 Juli 2026 mendatang.

Sentuhan Lokalitas dalam Formula Melodrama Asia


Membawa narasi yang universal namun sarat keintiman, "Dua Nafas" menyoroti dinamika hubungan antara Mariyam, seorang nenek di pedesaan, yang harus merawat cucunya, Anto. Konflik bergulir ketika sang ibu, Waty, terpaksa menitipkan buah hatinya demi menjalani perawatan medis intensif selama dua bulan di rumah sakit. Lewat premis sederhana ini, penonton diajak menyelami kembali arti pengorbanan, respek terhadap orang tua, serta jembatan kasih sayang antar-generasi yang kerap terkikis zaman.


Dalam sesi diskusi bersama awak media, sutradara Hasto Broto menegaskan bahwa proses adaptasi ini melewati perombakan struktural yang cukup signifikan agar mampu bersenyawa dengan kultur penonton Indonesia.


"Konsep fundamentalnya memang kita adopsi dari sinema Korea Selatan, namun sekitar 75 persen dari keseluruhan narasi dan pendekatan sinematiknya telah kami rekontekstualisasi ke dalam budaya lokal. Kompas utamanya tetap konsisten, yakni potret emosional antara seorang nenek dan cucunya," jelas Hasto.


Langkah modifikasi ini diambil agar konflik dan karakter yang tersaji di layar terasa organik dan dekat dengan realitas sosial masyarakat kita.

Langkah Perdana Syakir Film dan Jembatan Kolaborasi Global


Bagi sineas muda Syakir Daulay, proyek ini memiliki arti ganda. Selain didapuk memerankan karakter Anto dewasa, "Dua Nafas" sekaligus menandai debut rumah produksinya, Syakir Film, di kancah perfilman nasional. Syakir memandang sinergi ini sebagai momentum krusial untuk memperluas jejaring industri film Indonesia di Asia.


"Proyek ini berangkat dari kekaguman kami terhadap karya sineas Korea yang mampu memantik memori masa kecil bersama figur nenek. Ini adalah sebuah tribut untuk kehangatan keluarga. Kami berharap, kolaborasi ini membuka keran kerja sama yang lebih masif antar-negara Asia ke depannya," ungkap Syakir optimis. Ia juga menambahkan bahwa film ini mengantongi pesan moral kuat yang sangat ramah ditonton oleh segmen keluarga dan anak-anak.


Rasa haru dan apresiasi tinggi juga datang dari Daniel Kwon, produser asal Korea Selatan yang mengawal proyek ini selama hampir satu tahun. Baginya, nilai-nilai domestik Asia memiliki kesamaan rasa yang magis saat ditumpahkan ke dalam medium film.


"Perjalanan panjang ini akhirnya bermuara pada layar lebar, dan saya sangat berterima kasih atas dedikasi luar biasa dari Hasto Broto, jajaran cast, serta seluruh kru. Melalui film ini, selain menyajikan elegi cinta seorang nenek, kami juga ingin merayakan keelokan budaya Indonesia dalam merajut kembali konflik internal keluarga," tutur Daniel.

Diwarnai Tantangan Produksi di Lapangan


Di balik suguhan visualnya yang menyentuh hati, proses syuting "Dua Nafas" rupanya menyimpan cerita perjuangan tersendiri bagi para pelakonnya. Kanie Zainal, aktor yang memerankan tokoh ayah Udin, membagikan dinamika tak terduga yang sempat terjadi di lokasi syuting selama masa produksi yang memakan waktu satu tahun tersebut.


"Medan dan tantangan di lapangan sangat dinamis. Kami menghadapi banyak peristiwa di luar kendali, bahkan salah satu kru kami sempat digigit ular saat proses pengambilan gambar berlangsung. Namun, seluruh interupsi alam itu justru mempererat soliditas kami untuk menghasilkan karya terbaik," kenang Kanie.


Diproduseri oleh trio Mr. Park, Daniel Kwon, dan Syakir Daulay, "Dua Nafas" diperkuat oleh ansambel akting lintas generasi yang menjanjikan performa kuat, mulai dari aktris senior Aty Cancer, Adela Rasya, Auzan Noh Karepesina, Bilqis Hafsa, hingga Mantra Gurindam.


Dengan kombinasi naskah yang emosional dan relevansi budaya yang kental, "Dua Nafas" siap menjadi alternatif tontonan yang menghangatkan hati sekaligus menguras air mata keluarga Indonesia di bioskop mulai pekan pertama Juli mendatang. (FL)




0 comments:

Posting Komentar