This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

29 Juli 2025

"RANGGA & CINTA": NAFAS BARU KISAH LEGENDA, MILES FILMS RILIS POSTER DAN TRAILER RESMI

 

Jakarta, 28 Juli 2025 – Dalam sebuah konferensi pers eksklusif yang berlangsung di XXI Plaza Senayan, Miles Films resmi meluncurkan poster dan trailer perdana film "Rangga & Cinta", sebuah reinterpretasi musikal dari salah satu karya paling ikonik dalam sejarah perfilman Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta?

Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri oleh Mira Lesmana, film ini menjadi perayaan sinematik yang memadukan nostalgia dengan semangat sinema baru. Dengan sentuhan musikal dan deretan wajah-wajah segar, Rangga & Cinta bukan sekadar remake, melainkan sebuah kelahiran kembali (rebirth) yang memberi ruang bagi generasi muda untuk merasakan kisah yang telah mengakar kuat dalam budaya pop Indonesia.


Warna Baru dalam Poster dan Emosi dalam Trailer

OFFICIAL POSTER RANGGA & CINTA

Peluncuran poster resmi Rangga & Cinta menjadi pembuka momen penting ini. Dalam balutan warna yang segar namun tetap menghormati estetika visual Ada Apa Dengan Cinta? (2002), poster menampilkan Leya Princy sebagai Cinta dan El Putra Sarira sebagai Rangga. Visualnya mencerminkan semangat remaja awal 2000-an yang kini dihidupkan kembali dengan interpretasi kontemporer.


OFFICIAL TRAILER RANGGA & CINTA

Tak kalah mencuri perhatian, trailer resmi berdurasi dua menit dirilis pertama kali kepada publik. Melalui potongan adegan yang puitis dan penuh dinamika, penonton diperkenalkan pada kombinasi unik antara akting, koreografi, dan nyanyian para pemain muda. Di balik harmoni visual dan musikal ini, hadir juga lagu-lagu ciptaan Melly Goeslaw dan Anto Hoed, yang turut menghidupkan ulang emosi-emosi ikonik dalam kisah cinta remaja ini.


Membawa Karakter-Karakter Lama ke Dalam Dunia Baru



Trailer memperkenalkan kembali geng sahabat SMA yang dulu dicintai: Alya (Jasmine Nadya), Maura (Kyandra Sembel), Milly (Katyana Mawira), Karmen (Daniella Tumiwa), serta Mamet (Rafly Altama) dan Borne (Rafi Sudirman). Satu karakter baru yang diperkenalkan adalah Limbong, pedagang buku ikonik yang kini diperankan oleh Boris Bokir, menggantikan peran almarhum Gito Rollies dari versi asli.


Sementara itu, Leya Princy dan El Putra Sarira tampil meyakinkan dalam menggambarkan dinamika cinta dua dunia: satu penuh keramaian, satu lagi penuh kesunyian yang dalam. Cuplikan suara El Putra menyanyikan lagu “Suara Hati Seorang Kekasih” menghadirkan kesan mendalam dan emosional, menjanjikan nuansa musikal yang bukan hanya estetis tetapi juga naratif.


Dibalik Layar: Karya Kolaboratif Bertabur Talenta

Selain nama-nama besar seperti Mira Lesmana dan Riri Riza, film ini turut melibatkan kolaborasi lintas disiplin. Koreografi digarap oleh Pasha Prakasa, sinematografi oleh Vera Lestafa, dan penyuntingan gambar oleh Aline Jusria, menjadikan film ini sebagai proyek ambisius yang menyatukan kekuatan teknis dan artistik.

Dukungan luas dari mitra produksi seperti Surya Citra Media, Trinity Entertainment Network, Barunson E&A, hingga sponsor dari Indomie, Skintific, Amar Bank, dan kolaborasi fashion dengan Calla The Label, menunjukkan bagaimana Rangga & Cinta menjadi proyek lintas industri yang siap menyapa pasar secara masif.


Pernyataan Para Kreator: Membingkai Nostalgia dengan Perspektif Baru


Dalam sesi konferensi pers, Mira Lesmana menyampaikan, “Rangga & Cinta adalah bentuk penghormatan terhadap cinta pertama banyak orang. Kami menghadirkannya kembali dengan pendekatan musikal untuk menyampaikan emosi secara lebih mendalam dan menyentuh.”


Sutradara Riri Riza menambahkan, “Film ini bukan sekadar adaptasi, tapi sebuah ruang ekspresi yang membuka interpretasi baru dari kisah yang sudah dikenal. Kami ingin mempertahankan ruh cerita asli sambil memberi napas segar pada dinamika antar karakternya.”


Tanggal Rilis dan Harapan Baru untuk Perfilman Indonesia

Rangga & Cinta dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 2 Oktober 2025. Film ini bukan hanya menjanjikan pengalaman sinematik penuh warna dan emosi, tetapi juga menjadi simbol bahwa warisan sinema Indonesia dapat terus berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan akarnya.

Pantau informasi lebih lanjut melalui kanal resmi Miles Films, dan bersiaplah untuk menyelami kembali kisah cinta yang tidak pernah benar-benar usai—kali ini, dalam denting nada dan lirik yang akan tinggal lebih lama di hati.


28 Juli 2025

DALAM SUJUDKU VOICE HUNT : MELAHIRKAN BINTANG UNTUK LAYAR LEBAR MELALUI SUARA DAN KETULUSAN HATI

Sabtu, 26 Juli 2025 – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Bajawa Kemang, Jakarta Selatan, saat momen puncak pencarian talenta vokal terbaik untuk Original Soundtrack Dalam Sujudku digelar melalui ajang Grand Final Voice Hunt. Acara ini menjadi penutup dari rangkaian perjalanan panjang dan emosional yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang diadakan oleh Project 69.

Dimulai dari proses audisi yang digelar secara offline di lima kota besar—Yogyakarta, Cimahi, Bekasi, Depok, dan Tangerang—Voice Hunt Dalam Sujudku Film berhasil menyaring 15 finalis yang tak hanya memiliki kualitas vokal unggulan, namun juga karakter suara yang mampu menyentuh rasa. Masing-masing dari mereka telah melewati tahapan intensif: mulai dari sesi coaching class bersama para mentor, pelatihan teknis dan artistik, karantina penuh materi workshop, hingga pembekalan mental dan emotional bonding yang memperkuat sisi personalitas mereka sebagai calon pengisi soundtrack film.

02 Juli 2025

GALA PREMIERE & PRESS CONFERENCE VIDIO ORIGINAL SERIES “ROMAN DENDAM”

 

Kolaborasi Epik Aksi dan Romansa yang Membekas dari Vidio dan Screenplay Films

Jakarta, 21 Juni 2025 – XXI Plaza Indonesia - FilmLokal.id

Vidio kembali memantapkan eksistensinya sebagai platform OTT unggulan dengan mempersembahkan karya terbaru bertajuk Roman Dendam, sebuah original series yang menggabungkan elemen aksi intens dan romansa emosional dalam satu narasi kuat. Bertepatan dengan peresmiannya, Gala Premiere dan Press Conference series ini digelar di XXI Plaza Indonesia pada Sabtu, 21 Juni 2025, menandai peluncuran resmi dari serial bergenre action-romance ini ke publik.

Diproduksi oleh Screenplay Films, Roman Dendam hadir sebagai bagian dari komitmen Vidio dalam menyuguhkan konten orisinal berkualitas. Di balik proyek ini berdiri para nama besar industri: Sutanto Hartono, Mark Francis, dan Anthony Buncio sebagai produser eksekutif, serta Wicky V. Olindo sebagai produser. Dua nama sutradara yang telah berpengalaman, Tommy Dewo dan Ceppy Gober, memimpin penggarapan 8 episode dalam serial ini. Naskahnya ditulis oleh kolaborasi Tommy Dewo, Venerdi Handoyo, Fellita Irmadella, dan Kristo Parinters Makur.


KISAH DENDAM YANG BERALIH MENJADI CINTA

Mengangkat cerita tentang Tiana (Tatjana Saphira), seorang wanita muda yang menyimpan dendam setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah pembunuhan tragis, Roman Dendam membuka babak drama dengan nuansa kelam.

Dalam pencarian keadilan, Tiana menemukan satu nama yang mencurigakan—Barli (Abimana Aryasatya), seorang pria pendiam yang kini bekerja sebagai tukang cukur, namun menyimpan masa lalu sebagai pembunuh bayaran.

Pertemuan mereka mengawali perjalanan yang penuh dilema moral, luka lama, dan tabir misteri yang semakin menggelap. Tak disangka, rasa benci perlahan berubah menjadi emosi yang lebih dalam—membangkitkan konflik batin yang tak terhindarkan.


ABIMANA ARYASATYA DAN TATJANA SAPHIRA: TRANSFORMASI TOTAL DI LAYAR KACA

Kembalinya Abimana Aryasatya ke dunia aksi menjadi salah satu magnet utama dari serial ini. Setelah sukses besar melalui Serigala Terakhir, kini ia hadir dengan karakter Barli yang lebih subtil dan kompleks—seorang pria dengan masa lalu berdarah yang mencoba menebus kesalahannya.

"Kalau Alex melampiaskan amarah, Barli justru menahannya. Emosinya dibangun secara diam-diam dan itu jauh lebih menantang," jelas Abimana dalam sesi wawancara.


Sementara itu, Tatjana Saphira mencuri perhatian lewat peran Tiana. Untuk pertama kalinya, aktris ini tampil dalam adegan laga intens dan menunjukkan dedikasi penuh untuk peran fisiknya. Tatjana menjalani pelatihan bela diri dan perubahan fisik demi menyatu dengan karakter yang dikuasai oleh amarah, trauma, dan tekad balas dendam.

“Ini peran paling menantang yang pernah saya jalani. Saya belajar teknik bela diri dari nol, termasuk bagaimana memukul, menendang, bahkan teknik bertahan diri. Semua untuk memastikan Tiana terasa nyata,” ungkap Tatjana.


KONSEP PENYUTRADARAAN GANDA & PERPADUAN GENRE YANG KUAT

Duet penyutradaraan Tommy Dewo dan Ceppy Gober memberikan dinamika visual dan emosional yang kontras namun harmonis. Tommy dikenal dengan pendekatan emosional yang kuat, sementara Ceppy membawa kekuatan teknis dan koreografi laga yang presisi.

Dengan latar sinematik yang gelap namun tetap estetis, Roman Dendam berhasil memadukan atmosfer thriller dengan ritme naratif romansa yang mengalir halus. Serial ini juga memperlihatkan bagaimana konflik personal bisa bersinggungan dengan konflik eksternal dalam bentuk kekerasan dan kriminalitas terorganisir.


DERETAN NAMA UNGGULAN PENGUAT CERITA

Tidak hanya mengandalkan dua pemeran utama, Roman Dendam diperkuat oleh jajaran aktor pendukung berpengalaman dan berkarakter kuat.

Faradina Mufti tampil sebagai Rei, mantan rekan Barli yang kini memiliki agendanya sendiri. Agus Kuncoro dan Kiki Narendra turut membawa tensi dramatis sebagai karakter dengan moral abu-abu, sementara sentuhan humor segar diselipkan melalui peran Ence Bagus dan Bebeto Leutualy.


PENONTON DAN INDUSTRI BERANTUSIAS

Acara Gala Premiere yang diselenggarakan dengan atmosfer eksklusif ini turut dihadiri oleh para pemeran, kru, serta awak media. Terdapat antusiasme tinggi dari para undangan yang mendapatkan kesempatan menyaksikan episode perdana secara langsung. Sesi press conference pun diwarnai diskusi hangat tentang pendekatan genre yang diusung dan tantangan teknis dalam produksi.

Roman Dendam adalah proyek yang sangat personal bagi kami, karena memadukan rasa sakit, cinta, dan aksi dalam satu napas cerita. Ini bukan hanya soal balas dendam, tapi juga bagaimana dua jiwa terluka mencari alasan untuk hidup kembali,” ujar Tommy Dewo.


SIAP TAYANG EKSKLUSIF DI VIDIO MULAI JUNI 2025

Roman Dendam akan mulai tayang secara eksklusif di Vidio sepanjang Juni 2025. Serial ini bukan hanya menjanjikan ketegangan dan koreografi aksi kelas atas, tetapi juga menyajikan drama emosional yang menyentuh dan penuh kejutan.

Dengan kualitas produksi yang matang, jajaran pemain yang solid, serta cerita yang segar dan berani, Roman Dendam menjadi bukti bahwa serial lokal mampu bersaing secara kualitas dengan tontonan internasional.

01 Juli 2025

GALA PREMIERE ARWAH "MENILIK TEROR EMOSIONAL DALAM BALUTAN HOROR KELUARGA YANG MENGGUGAH

 

Jakarta, 30 Juni 2025 — Suasana Epicentrum XXI Jakarta Selatan malam ini berubah menjadi pusat perhatian insan perfilman nasional, seiring dengan digelarnya Gala Premiere film horor drama terbaru bertajuk "ARWAH". Diproduksi oleh Bangun Pagi Pictures, Drias Film Production, dan Mocking Bird Pictures, film ini menjadi pertemuan emosional antara horor supernatural dan drama keluarga, yang menuai banyak antisipasi sejak peluncuran poster dan trailer resminya pada awal Juni lalu.

Acara ini menjadi debut publik film “ARWAH” di hadapan media, undangan, keluarga besar produksi, serta para pencinta film. Gala Premiere ini juga dirangkaikan dengan Press Screening & Conference yang dihadiri langsung oleh jajaran pemeran utama dan tim kreatif, termasuk sutradara Ivan Bandhito, penulis naskah Sankut, serta para produser — Jonathan HM, Drias, dan Nico Rosto. Hadir pula para pemeran utama seperti Sarah Beatrix, Joshua Suherman, Annete Edoarda, Naura Hakim, Irsyadillah, dan Egi Fedly, yang turut menyapa hadirin dalam sesi temu media.

Film ARWAH membawa kisah sekelompok kakak-beradik yang lama tak bersua, memutuskan untuk pulang kampung demi reuni keluarga. Namun kebersamaan itu berubah menjadi mimpi buruk saat tragedi terjadi dalam perjalanan menuju air terjun kenangan mereka. Sejak kecelakaan tersebut, mereka diteror oleh sosok sang adik bungsu, Sofi (diperankan Sarah Beatrix), yang muncul dengan misteri tak tersampaikan. Teror demi teror menuntut para tokohnya menghadapi luka lama, konflik batin, dan keharusan untuk mengikhlaskan masa lalu.

25 Juni 2025

ULASAN FILM "SAMPAI JUMPA SELAMAT TINGGAL"

 

Sinopsis

Dalam Sampai Jumpa Selamat Tinggal, kita diajak menyelami kehidupan sepasang kekasih Indonesia yang menetap di Korea Selatan dan harus menghadapi kenyataan pahit dalam relasi mereka. Cinta, perpisahan, dan pemulihan menjadi simpul emosi utama dalam film ini, yang disampaikan melalui narasi puitik dan reflektif. Ketika jarak dan waktu tidak lagi memihak, kisah mereka berkembang menjadi perjalanan batin penuh luka, namun juga harapan akan versi diri yang lebih utuh.


Cerita & Naskah

Adriyanto Dewo tidak sekadar menulis sebuah cerita romansa. Ia membingkai relasi antarmanusia sebagai proses perenungan akan kehilangan dan pertumbuhan. Naskah film ini tidak tergesa-gesa menyampaikan konflik; ia memilih untuk mengendap perlahan, membiarkan penonton turut mengurai makna di balik diam dan jeda. Percakapan yang minim namun bernas memperkuat kesan bahwa keheningan juga bisa berkata-kata, sebuah pendekatan naratif yang jarang kita temui dalam sinema romansa populer.


Penyutradaraan

Sebagai sutradara sekaligus penulis, Adriyanto Dewo tampil konsisten dalam menjaga tone film yang meditatif dan emosional. Ia tidak menjejali layar dengan eksposisi berlebih, justru memaksimalkan gestur, pandangan, dan atmosfer sebagai bahasa utama narasi. Penataan ruang dan pengambilan gambar yang kontemplatif menjadi bukti bahwa Dewo memahami bagaimana ruang emosional harus dibentuk bukan melalui kata, melainkan melalui suasana.


Akting

Putri Marino kembali membuktikan kapasitasnya dalam memainkan karakter perempuan dengan luka yang dalam namun tidak histeris. Penampilannya terasa tenang, namun menggetarkan. Jerome Kurnia menghadirkan kehangatan yang rapuh—ia tidak tampil sebagai kekasih ideal, tapi sebagai manusia dengan kontradiksi. Jourdy Pranata dan Lutesha memberi warna dinamis pada narasi yang cenderung sunyi, sementara aktor-aktor Korea seperti Han Sang-il dan Sang Kwan Kim memberikan dimensi interkultural yang natural dan tidak dipaksakan. Penampilan mereka menambah konteks sosial, bukan sekadar gimmick latar tempat.


Analisis Karakter

Karakter-karakter dalam film ini tidak dibentuk untuk dicintai atau dibenci, melainkan untuk dipahami. Mereka hidup dalam kerumitan emosi yang tidak mudah ditebak, penuh keputusan abu-abu. Dalam hal ini, Sampai Jumpa Selamat Tinggal menghadirkan potret manusia yang sangat nyata—tidak hitam putih, tidak melodramatik, tapi personal dan dekat dengan realitas sehari-hari.


Tata Artistik & Sinematografi

Sinematografer film ini berhasil menangkap lanskap Korea Selatan dengan lensa yang personal dan intim. Alih-alih menonjolkan sisi turistiknya, visual film ini justru terasa sepi, dingin, dan sendu—selaras dengan atmosfer emosional karakter. Tata artistik tampil minimalis, namun memiliki fungsi naratif yang kuat. Palet warna netral dengan semburat dingin memperkuat kesan keterasingan dan kerinduan dalam diri para tokoh.


Musik Skoring & Tata Suara

Skoring dalam film ini tidak berusaha mendominasi, namun justru menegaskan nuansa hening sebagai medium komunikasi. Beberapa momen kunci hanya diiringi oleh ambient sound atau instrumen lembut, sehingga tiap letupan emosi terasa lebih membekas. Penataan suara dieksekusi dengan cermat, terutama dalam mengatur dinamika antara percakapan dan keheningan. Sunyi menjadi ruang, bukan kekosongan.


Wardrobe / Outfit

Busana yang dikenakan para karakter tidak hanya mencerminkan latar geografis dan musim, namun juga kondisi psikologis mereka. Gaya berbusana yang sederhana namun presisi ini menunjukkan perhatian pada detil: warna-warna pastel dan earth-tone mendominasi lemari karakter utama, mendukung tone emosional cerita yang penuh nuansa kehangatan yang tertahan.


Tema & Relevansi Sosial

Film ini berbicara tentang perpisahan, bukan hanya sebagai akhir dari relasi, tetapi sebagai titik balik menuju pemahaman diri. Tema kehilangan dalam diaspora, pencarian makna dalam relasi lintas budaya, hingga pentingnya membangun ruang aman dalam perpisahan menjadikan Sampai Jumpa Selamat Tinggal relevan bagi generasi urban yang sering bergulat dengan identitas dan batas emosi. Ini bukan kisah cinta biasa—ini adalah memoar sunyi tentang keberanian mencintai dan melepaskan.


Kesimpulan

Sampai Jumpa Selamat Tinggal adalah film yang mengajak penontonnya merenung, bukan berfantasi. Adriyanto Dewo mengeksekusi kisah ini dengan kepekaan sinematik yang tajam, menempatkan aktor-aktornya dalam ruang yang organik, dan membangun pengalaman menonton yang kontemplatif. Ini bukan tontonan instan, melainkan sebuah pengalaman sinema yang mengandalkan kesadaran emosional penontonnya.


Nilai Akhir

8.7 / 10

Film ini adalah sebuah elegi visual yang mendalam—sebuah surat cinta bagi mereka yang belajar berdamai dengan luka, dan menyadari bahwa kadang, perpisahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.


ULASAN FILM "ANGEL POL"

 

SINOPSIS

Film ANGEL POL menggambarkan perjalanan dua individu dari latar belakang berbeda yang dipertemukan oleh keadaan: Jati, seorang mahasiswa seni rupa yang tersingkir dari kampus karena idealismenya, dan Lastri, seorang perempuan desa yang tertipu calo kerja. Tanpa banyak pilihan, keduanya membentuk grup musik keliling, membawa semangat hidup lewat orkes dangdut koplo yang tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tapi juga wadah kritik terhadap realitas sosial.


CERITA & NASKAH

Asaf Antariksa menulis cerita dengan fondasi kritik sosial yang dibungkus dalam kemasan ringan. Konflik tidak diledakkan dengan cara agresif, melainkan hadir dalam irisan-irisan halus melalui percakapan dan perjalanan karakter. Cerita berkembang dari tragedi personal ke bentuk perlawanan kolektif, tanpa meninggalkan humor khas rakyat. Walau penyampaiannya terasa santai, ide-ide tajam tentang ketimpangan, eksploitasi, dan perlawanan kelas tetap tersisipkan dengan rapi.


PENYUTRADARAAN

Hanny R. Saputra membawa nafas baru dalam filmografi lokal dengan memadukan elemen drama musikal dan komedi satir. Gaya penyutradaraannya terasa percaya diri dalam membaurkan antara narasi sosial dan pertunjukan koplo yang penuh warna. Ia tidak menjejalkan pesan secara gamblang, melainkan menyelipkannya melalui nuansa, pilihan gambar, dan performa panggung yang menjadi pusat gravitasi cerita. Beberapa adegan terasa lebih ringan dari potensinya, tapi eksekusi keseluruhan tetap terkendali.


AKTING & PENDALAMAN KARAKTER

  • Michelle Ziudith tampil berani sebagai Lastri, menciptakan sosok perempuan yang tangguh, lugu, tapi cepat belajar menghadapi kerasnya realitas. Ia menampilkan transformasi emosional yang kredibel, termasuk lewat aksi panggungnya sebagai biduan koplo.

  • Bhisma Mulia membangun karakter Jati dengan presisi: intelektual, keras kepala, namun tetap rapuh sebagai manusia. Ia menjadi penyeimbang energi antara sisi politis dan sisi komikal film.

  • Para pemeran pendukung—termasuk Jolene Marie, Dayu Wijanto, Toni Belok Kiri hingga Bogang Bakar—menyempurnakan atmosfer film dengan kehadiran yang autentik dan mencuri perhatian pada momen-momen tertentu.


TATA ARTISTIK & SINEMATOGRAFI

Visual film ini menampilkan kontras kuat antara latar desa, kampus, dan panggung keliling. Truk panggung dangdut dihidupkan dengan detail yang tidak hanya menarik mata, tetapi juga memuat simbol-simbol resistensi dari rakyat kecil. Warna-warna cerah dari kostum dan pencahayaan konser menjadi simbol harapan di tengah latar kehidupan yang suram. Pengambilan gambar juga tidak berlebihan, lebih mengandalkan dinamika blok panggung dan ekspresi karakter untuk menyampaikan makna.


MUSIK & TATA SUARA

Musik adalah jantung dari Angel Pol. Lagu-lagu koplo seperti “Angel Pol” dan “Pepes Rempelo” bukan sekadar hiburan, tetapi menyuarakan keresahan sosial dengan cara yang mudah dicerna dan menggelitik. Michelle menyanyikannya secara live tanpa lipsync—keputusan yang memberi kejujuran pada performanya. Tata suara pun dirancang untuk memperkuat suasana—dari riuh panggung, tawa penonton, hingga keheningan personal para tokohnya.


KOSTUM & TAMPILAN

Lastri tampil mencolok dengan gaya biduan koplo khas: penuh kilau, rok mini, sepatu boots, dan pernak-pernik lokal. Gaya panggungnya menjadi pernyataan visual tentang eksistensi perempuan di ruang publik rakyat. Sebaliknya, Jati berpakaian sederhana namun tetap ekspresif sebagai seniman jalanan, menunjukkan perlawanan terhadap formalisme. Wardrobe masing-masing karakter sangat mendukung pembentukan narasi sosial mereka.


TEMA & KONTEKS SOSIAL

Angel Pol bukan hanya kisah tentang musik dan cinta, melainkan juga refleksi tentang perjuangan masyarakat pinggiran. Film ini menyuarakan keberanian untuk bersuara, menghadirkan panggung kecil sebagai metafora panggung yang lebih besar—masyarakat. Tanpa harus menggurui, film ini mengangkat isu sosial dengan sentuhan ringan, tetapi tetap tajam dalam implikasi.


KESIMPULAN

Angel Pol adalah film yang menyenangkan secara musikal dan menggugah secara tematik. Ia merayakan dangdut koplo bukan sekadar genre musik, tetapi sebagai bentuk ekspresi sosial. Penyutradaraan yang enerjik, akting yang jujur, serta keberanian memainkan narasi sosial melalui seni pertunjukan menjadikannya karya yang patut diapresiasi.


NILAI AKHIR: 8.5 / 10

Film ini adalah sajian segar dan berani, menghadirkan humor, musik, dan kesadaran sosial dalam porsi yang tepat. Angel Pol bukan hanya hiburan, tapi juga panggilan untuk melihat lebih dalam soal siapa yang layak bicara, dari atas panggung rakyat.

GALA PREMIERE “NARIK SUKMO” TAMPILKAN PERPADUAN HOROR, TRADISI DAN KONFLIK BATIN

Jakarta, 24 Juni 2025 – Epicentrum XXI menjadi saksi kemegahan malam pemutaran perdana film Narik Sukmo, sebuah karya horor terbaru produksi Mesari Pictures dan JP Pictures yang menggugah rasa dan nalar penonton. Mengusung tema besar tentang jiwa, dendam, dan pengkhianatan masa silam, film ini disutradarai oleh Indra Gunawan, dengan skenario ditulis oleh Evelyn Afnilia, berdasarkan novel karya Dewie Sofia.

Dihelat dalam suasana eksklusif dan penuh antisipasi, acara gala premiere turut dihadiri oleh para pemain utama seperti Febby Rastanty, Aliando Syarief, Dea Annisa, Teuku Rifnu Wikana, Nugie, Kinaryosih, Yama Carlos, Maryam Supraba, hingga Elly D. Luthan. Turut hadir pula tim produksi, termasuk Produser Eksekutif Darmawan Surjadi dan Produser Mulyadi JP.

16 Juni 2025

LEWAT GALA PREMIERENYA “SYIRIK: DANYANG LAUT SELATAN” MEMBUKTIKAN CERITA SPEKTAKULER BERTAJUK BUDAYA LOKAL

Sebuah Malam Mistis yang Membuka Layar Budaya dan Horor Spiritual Indonesia

Jakarta, 16 Juni 2025 — Lobi utama XXI Epicentrum malam ini berubah menjadi ruang lintas dimensi: antara dunia nyata dan gaib, antara kearifan lokal dan teror spiritual. Inilah malam Gala Premiere “Syirik: Danyang Laut Selatan”, film terbaru besutan Ganesa Films yang disutradarai oleh Hestu Saputra dan diproduseri oleh Chandir Bhagwandas. Satu malam yang menjadi selebrasi sekaligus penanda kembalinya horor bernarasi mendalam ke layar lebar Indonesia.

Dengan karpet merah yang disesaki bintang pemain, awak media, tamu undangan baik umum maupun artis papan atas ibukota, hingga pegiat budaya. Atmosfer malam itu tak sekadar meriah, tapi juga mengandung aura sakral. Tidak berlebihan, sebab film ini bukan sekadar horor, melainkan sebuah tafsir sinematik tentang benturan antara iman dan kegelapan—di mana mitos lokal menjadi fondasi naratif yang kuat.

05 Juni 2025

PRESS CONFERENCE & GALA PREMIERE FILM “SAMPAI JUMPA, SELAMAT TINGGAL”

Drama Cinta yang Menggugah Emosi dalam Balutan Gaya dan Ketajaman Visual

Jakarta, 2 Juni 2025 – Layar perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan sebuah karya terbaru yang menjanjikan sentuhan emosi mendalam dan keotentikan cerita: Sampai Jumpa, Selamat Tinggal. Film hasil kolaborasi antara Adhya Pictures dan Relate Films ini resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara Press Conference sekaligus Gala Premiere yang digelar di Metropole XXI, Jakarta. Disutradarai oleh Adriyanto Dewo dan diproduseri oleh Perlita Desiani serta Shierly Kosasih, film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 Juni 2025.

Membawa genre drama romantis dengan pendekatan yang lebih tajam dan emosional, Sampai Jumpa, Selamat Tinggal mengeksplorasi dinamika hubungan cinta yang tidak ideal—mulai dari luka akibat ghosting hingga sisi gelap dari hubungan yang tidak sehat. Cerita berfokus pada karakter Wyn (Putri Marino), seorang perempuan yang terluka karena ditinggalkan Dani (Jourdy Pranata), dan perjalanannya menuju Korea Selatan demi mendapatkan kejelasan. Di negeri asing itu, ia bertemu Rey (Jerome Kurnia), seorang pekerja migran yang tanpa disangka justru menjadi penyelamat emosionalnya.

Visi Visual dan Estetika Gaya: “Your Kind of Edgy”

Gala Premiere malam itu tak hanya menyorot filmnya, tetapi juga menjadi ajang selebrasi visual lewat tema busana “Your Kind of Edgy” yang diusung para pemain. Penampilan para cast menjadi refleksi dari karakter mereka di layar:


  • Jerome Kurnia tampil mencolok dalam setelan kulit hitam mengilap berpadu inner metalik emas transparan—mewakili sisi flamboyan Rey yang menyembunyikan kesepian.



  • Jourdy Pranata hadir dengan gaya earthy lewat cropped tartan blazer yang memperlihatkan kontras karakter Dani, misterius namun penuh konflik.



  • Lutesha mencuri perhatian dalam coat kulit merah menyala yang senada dengan karakter gangster Vanya yang agresif dan penuh kendali.



  • Kiki Narendra menampilkan sisi klasik-rebel lewat paduan jaket kulit dan jeans robek, selaras dengan karakter Anto yang keras kepala namun penuh kepedulian.

22 Mei 2025

UMUMKAN POSTER DAN TRAILER RESMI FILM "SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN", CERITA FILM MENYUGUHKAN DRAMA FANTASI ROMANTIS SARAT EMOSI

Jakarta, 22 Mei 2025 — Cerita Films secara resmi memperkenalkan poster dan cuplikan perdana dari film drama romantis terbarunya, Sore: Istri dari Masa Depan, dalam sebuah press conference yang dihadiri oleh jajaran pemain dan tim kreatif. Disutradarai oleh Yandy Laurens dan diproduseri oleh Suryana Paramita, film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 10 Juli 2025.

Film ini menghadirkan cerita unik tentang cinta, waktu, dan harapan, lewat sosok Sore (Sheila Dara), seorang perempuan dari masa depan yang datang untuk mengubah arah hidup Jonathan (Dion Wiyoko), pasangannya di masa kini. Dengan membawa misi pribadi dan rahasia besar, kehadiran Sore membuka lembaran baru dalam kehidupan Jonathan—namun tidak tanpa konsekuensi.